Wednesday, June 13, 2012
the song of our time
The TV news merely give us sensation, instead of solution. Private media bosses are producing news just for the rating, and the mass of people left out in frustrating. The radio massively played pessimistic song. The activists act destructive and flawed, and the government seem to be deaf to all the aspiration. And, where is the love? Where is the hope? So it is important to us to get the momentum to awaken our positive side.
The world now seem to be addicted to criticism, lack of effort toward trust building each other. Therefore, the medicine of all of this problem is that we have to encourage our beliefs upon ourselves. The beliefs that can make ourselves 'real' that no one can affect us to be a rude and pessimistic person.
Monday, June 4, 2012
Kembali..
Aku kembali.. hidup lagi dan lagi.. pernahkah kita merasakan mati di dalam hidup? hidup dalam kematian, kematian dalam hidup. Teka-teki hidup, kadang aku merasa otakku tak mampu, aku terlalu lambat untuk merespon segala sesuatu. Entahlah, kawan mohon bantu.. Tapi tak lupa aku selalu dan harus mengucap syukur atas segala jalan yang telah kutempuh..
Jiwa-jiwa berseri selalu dinanti. Dunia tak lagi mudah, seiring kau beranjak dewasa. Ia menuntut banyak dan mendorong kita sehabis-habisnya untuk berpikir dan bekerja. Lelah kadang terasa, permainan ini dan skenario ini butuh banyak improvisasi. Kita sebagai pemain haruslah menurut pada Sang Sutradara Agung, pada naskah cerita yang telah Ia goreskan. Kita tak bisa menolak, apalagi mengeluh, sebagai pemain yang profesional kita harus berjiwa total mengabdi pada Sang Maha Sutradara demi meluluskan naskah cerita. Tentu, cerita yang digarap Sang Maha Sutradara ialah cerita yang tidak menyedihkan, apalagi menyesatkan. Pastilah sang sutradara menuliskan cerita tentang kebahagiaan dan berujung pada pencerahan jiwa.
Jalan terjal menghadang, demi menuju kebahagiaan. Kita harus bergulat dalam gelap, sehingga kita tahu apa itu arti cerah. Marilah kita mendaki jalan yang curam nan sukar.. Dimanakah kebahagiaan? kita harus mencari di antara kesedihan. dalam dunia yang serba berubah, yang fana, yang rapuh, tak kekal.. tapi sampai kapan kita cari kebahagiaan itu? sampai stress? sampai pikiran kita mengkhayal segala semua yang kita ingini terpenuhi? Aku rasa tidak kawan, sekarang pun kita bisa merasa bahagia, ya kapan dan dimana saja. Tinggal kita yang menentukan mau terus mencari kebahagiaan atau menjadi bahagia saat ini juga. Kurang bahagia apa aku saat ini masih diberi kesempatan bernafas secara gratis? Bayangkan orang-orang yang di rumah sakit, ada yang harus bayar membeli tabung oksigen untuk bernafas..
Baiklah, aku akhiri saja tulisan ini sampai di sini dulu. Mari kita syukuri dalam keseharian yang penuh keajaiban-keajaiban Tuhan. Namun memang orang-orang sering tidak percaya dengan keajaiban, terlebih lagi ke-gaib-an. Akhirul kalam, salam.
Lyrics of life
Revolution begins at home but for most of us it ends there too, and
Doing something we're making changes like changing the brand of crap we buy,
We say it makes a difference but that's just another lie."
- Pinhead Gunpowder, "Life during war time" (Lyrics by Billie Joe Armstrong)
Out of Shadow
break out from all those wall of fame
there just too much time
I think about those things
that uncertain and void
the shadow of the world
is too bright hurting my eyes
is it real? I guess I want to see something
something beyond my mind
I believe in the universe
that singing for God's grace
everytime I'm awake
I want to find something real
leaving out all those that fake
Within this chest
there is a soul
my heart will go to the place
where I can feel no misery
Sleeping for a hundred, a thousand, a million years
with God embrace my soul
Monday, August 22, 2011
'Amanat Penderitaan Rakyat'
Pada akhirnya, Alhamdulillah saya diberi kesempatan untuk melihat lebih dekat apa itu Ampera dan kenapa penderitaan rakyat itu bisa sampai 'ada'. Dengan bersentuhan langsung dengan orang-orang yang sedang mengalami kesulitan-kesulitan hidup tersebut, hati saya bergetar karena buku2 sejarah yang selama ini saya baca serta pemberitaan2 media massa yang sering saya lihat seakan-akan datang 'menampar' wajah saya seiring lalu ada suara berbisik, 'Inilah kenyataan, bung!'.
Awal pertemuan saya dengan Ampera
Waktu itu siang hari di bulan September 2010. Saya sedang dalam perjalanan ke rumah saudara di antar oleh seorang teman. Rumah saudara saya di daerah Cipadu, kabupaten Tangerang Selatan, provinsi Banten. Di dalam perjalanan, saya melihat seorang ibu membawa sebuah map cokelat. Dengan mengendarai sepeda motor, awalnya saya hanya melintasi ibu tersebut yang sedang berjalan kaki, seiring kemudian terlintas di benak saya 'membawa apa ibu itu? Isinya map itu apa?'. Perasaan ingin tahu saya kemudian semakin menjadi-jadi ketika ibu itu dengan mimik wajah memelas berdialog dengan seseorang di jalanan. Sepertinya dari gerak-geriknya ibu itu sedang memohon pertolongan. Namun, sekilas berlalu saya sepertinya tidak terlalu menghiraukan permasalahan ibu itu seiring dengan laju sepeda motor saya yang tanpa henti terus bergerak ke arah rumah saudara saya.
Sesampainya di rumah saudara saya, saya hanya mengantarkan sebuah barang titipan, tidak berlama-lama untuk beramah-tamah dan sebagainya. Langsung saja setelah itu, saya berniat untuk bergegas pulang. Namun tanpa disangka-sangka, ibu yang tadi saya lihat di jalan menghampiri rumah saudara saya. Rumah saudara saya memang tidak jauh dari tempat ibu tadi berdialog dengan seseorang di jalanan. Lantas, ibu itu bertanya, "Mas, boleh minta tolong nggak?". Saya jawab, "Ya, bu, ada apa ya?". "Ini anak saya mau masuk sekolah, tapi nggak ada biayanya. Nih, mas boleh liat sendiri berkas2 anak saya (sambil membuka map amplop berwarna coklat kemudian mengeluarkan kertas-kertas). Ini ada ijazah lulus SMP, Surat Tanda Tamat Belajar (STTB), nilai rapot", ibu itu menjelaskan panjang lebar.
Ibu itu kemudian melanjutkan berkata, "minta tolong mas berapa aja (maksudnya minta uang) seikhlasnya". Dengan dahi yang mengkerut saya berkata dalam hati, "Apa benar berkas2 yang dibawa ini adalah anak ibu ini? bisa aja bohong." Pikirku langsung terarah pada kemungkinan buruk, bahwa ibu ini hanyalah 'seorang minta-minta yang malas bekerja'. Tetapi, saya kemudian tidak mengabaikan ibu ini begitu saja. Ada rasa percaya yang tumbuh di dalam hati saya terhadap ibu ini. Berdasarkan berkas2 yang saya baca, saya melihat seorang potret anak bangsa yang berprestasi. Lantas, saya langsung tergerak untuk membuktikan apakah ibu ini benar2 ibu dari anak yang ada di berkas tersebut, "Bu, sore nanti bisa ketemuan? kalo bisa bawa anak ibu, saya mau ngobrol langsung dengan anak ibu. kita janjian dimana gitu. Rumah ibu dimana?" tanya saya. "Rumah ibu di daerah Cipadu, Kreo, mas." Jawab ibu itu. kemudian saya tanya lagi, "kira2 kita nanti bisa janjian dimana ya?", langsung ibu itu menjawab, "di G**** (salah satu supermarket) aja mas, dari rumah saya lumayan deket kalo kesitu". Saya setuju, "oke deh bu, hmm kira2 jam 4 yaa ketemu disana".
Waktu terus bergulir sampai pada jam 4 sore, saya menunggu ibu tersebut di tempat yang sudah dijanjikan. Jam 4 lewat sedikit, ibu itu belum nampak, dan muncullah prasangka-prasangka buruk di benak saya bahwa ibu tadi berbohong dan sebagainya. Saya sudah ingin bergegas pulang dengan penuh kekecewaan. Namun ternyata takdir Tuhan berkata lain. Saya akhirnya dipertemukan lagi dengan ibu tadi yang membawa serta anaknya. Ternyata benar, anak yang ada di berkas itu memang anak ibu ini. Kemudian saya berkenalan lebih jauh dengan ibu ini beserta anaknya. Nama ibu ini adalah 'Herawati" dan anaknya bernama "Anggi". Setelah berbincang-bincang lebih dalam, akhirnya saya menetapkan hati untuk membantu ibu Herawati. Awalnya saya hanya ingin membantu untuk biaya masuk sekolah Anggi, namun takdir sekali lagi berkata lain. Saya diminta untuk mengajar di sekolahnya Anggi. Dari mengajar, saya mendapat pengalaman baru dan teman-teman baru, yaitu para guru yang mengajar di sana serta teman-temannya Anggi. Sungguh, kepuasan yang tidak bisa digambarkan, betapa Tuhan telah mencurahkan kasih sayang-Nya kepadaku dengan meluaskan tali silahturahmiku ke orang-orang ini:')
Saya mulai menyadari bahwa rasa persaudaraan bukan cuma di lingkaran dalam keluarga saya saja. Lebih dari itu, saya memaknai persaudaraan yang lebih luas dengan orang-orang di luar sana, dari keluarga orang lain yang sebelumnya saya merasa asing. Adalah miris melihat keadaan yang dialami keluarga Ibu Herawati ini, terutama saya memperhatikan masalah keberlanjutan pendidikan anaknya. Anaknya cukup berprestasi, nilai ujian akhirnya di atas rata-rata, dan sebenarnya berpotensi untuk masuk ke SMA/SMK negeri unggulan. Tapi apa mau dikata, kendala biaya kemudian menghalangi jalan anak berprestasi ini untuk bercita-cita lebih jauh.
Ironis memang, kebutuhan dasar pendidikan untuk semua rakyat masih jauh dari kenyataan, padahal dari tahun 1945 sudah diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar. Sosialisasi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan sekolah gratis sudah digencarkan dimana-mana, di TV, di spanduk-spanduk, tapi lagi lagi.. kenyataannya kok nggak gratis???
Demikianlah cerita pertemuan saya dengan ibu Herawati, ibu yang memelas minta pertolongan di suatu siang di bulan September 2010. Memelas minta tolong karena terhimpit persoalan biaya pendidikan anaknya. Ternyata sistem kolonialisme-imperialisme itu masih nyata ada sampai sekarang, namun pelakunya adalah BANGSA SENDIRI. Dari sinilah saya kemudian mengilhami arti 'Amanat Penderitaan Rakyat'.
Ampera mencakup segala nasib kehidupan orang-orang yang untuk memenuhi kebutuhan dasarnya masih kesulitan. Kebutuhan dasar itu mencakup antata lain pangan, pendidikan, kesehatan, perumahan, dan bahkan hiburan. Kebutuhan-kebutuhan dasar tersebut masih sulit dipenuhi karena tiadanya akses/syarat-syarat yang ringan dan praktis untuk memenuhinya. Rata-rata keadaan yang terbentuk di sekitar penderitaan rakyat adalah suatu keadaan yang serba-sulit, yang serba pelit, orang-orang sudah banyak yang tidak peduli terhadap sesamanya, orang-orang hanya memikirkan perutnya sendiri.
Kenapa sampai ada Ampera?
Coba setiap dari kita berkaca. Nah, di situlah letak terdekat Ampera, mengapa Ampera bisa sampai 'ada', yakni di diri kita sendiri. Kita, manusia, adalah pribadi yang rapuh dan lemah, tetapi terkadang untuk menutupi kerapuhan dan kelemahan kita itu kita justru dengan menguatkan kesombongan diri BUKANNYA bersyukur atas nikmat persaudaraan dan silahturahmi dari Tuhan. Pada akhirnya, kesombongan diri ini membawa kita pada perilaku ketidakpedulian (masa bodoh) terhadap sesama (lo-lo, gue-gue). Perilaku masabodoh manusia otomatis akan mematikan rasa empati di dalam hatinya. Dengan demikian, ketiadaan rasa empati inilah yang menyebabkan munculnya penderitaan rakyat dimana-mana.
Tidak usah jauh-jauh melihat kepada pemerintah, cukup lihat dan benahi dahulu yang terdekat yaitu diri kita sendiri. Sejauh mana kita telah peduli dengan lingkungan sekitar, sesama warga bangsa. Ataukah kita masih hanya berputar-putar hanya mempedulikan keluarga semata? Semakin manusia dewasa maka ia takkan bisa lepas dari masyarakatnya. Jadi jelas, pengabdian kepada keluarga itu harus, tapi pengabdian kepada masyarakat lebih lebih lagi harus ketika orang sudah mencapai tingkat kedewasaan yang cukup. Dengan bekal ilmu & sedikit pengorbanan harta yang kita miliki, insyaAllah itu akan bermanfaat bagi sesama kita. Apapun bidang/profesi/kemampuan yang kita miliki, yakinlah kita bisa bermanfaat bagi masyarakat dan mampu mengilhami apa itu 'Amanat Penderitaan Rakyat'.
Sunday, August 21, 2011
Belajar dari Film
Aku kagum dengan kedua film tersebut, mengandung banyak filosofi. Seperti waktu2 yang lalu, aku memang pada dasarnya suka untuk mencari-cari filosofi dari semua film yang aku tonton, terkadang suka sampai pusing sendiri berpikir ^_^
Aku banyak belajar dari tokoh-tokoh utama Kung Fu Panda dan Fast & Furious.
Kung Fu Panda.. tokoh utamanya namanya Po, seekor Panda. Karakter Po 'terlihat' begitu bodoh, ceroboh, dan polos. Namun sebenarnya dari sifat dasarnya itulah ia banyak BELAJAR. Karena merasa bodoh, ia tidak pernah sombong, tidak sok tahu. Karena ceroboh, ia tidak ingin lengah untuk jatuh di kesalahan yang sama dan tidak pernah merasa paling benar. Karena polos, ia mengerti arti dari kehidupan yang diliputi oleh rasa persaudaraan, persahabatan, dan keadilan.. jauh dari 'make-up' kehidupan yang diliputi haus kepentingan popularitas, harta, kedudukan, dan kekuasaan.. Bila dibandingkan dengan musuhnya, si Merak, maka terlihatlah apa-apa kebalikan dari sifat Po itu, yaitu sok pintar, sok benar, dan penuh kepentingan.. Dan pada akhirnya juga, sifat-sifat Po itulah yang akan menang. Karena memang itulah hukum alamnya, yang baik pada akhirnya akan selalu menang. Bahwa kejahatan si Merak itu akhirnya terbayar dengan kegagalan.. sifat kesombongan dan kerakusan pada akhirnya harus dibayar dengan penderitaan, kekalahan telak.. Memang seperti dongeng dimana ada 'happily ever after'. Kepolosan Po membawa ia pada kemenangan.
Fast & Furious 5.. aku belajar dari film ini tentang organisasi tim untuk mencapai tujuan dengan perencanaan yang matang dan tentang kejahatan para penegak hukum yang mudah sekali disuap. Ketika melihat para jagoan2 di film ini beraksi, aku selalu berdecak kagum. Jagoan2 di film itu bersatupadu melawan seorang big boss mafia bernama Reyes, yang duitnya berkarung-karung. Jagoan2 di film ini terlihat kompak, merencanakan aksi berdasarkan perhitungan yang matang. Mereka sudah menyiapkan plan A, plan B, plan C. Pada akhirnya kerjasama tim yang pantang menyerah adalah kuncinya. Walau sempat ada kegoyahan di tengah jalan untuk mencapai tujuan karena ada proses/kejadian yang tidak diduga-duga, tapi karena ada kepemimpinan tim yang kuat oleh seorang yang bernama Dom, maka tujuan awal yang telah ditetapkan terus diperjuangkan dengan cara-cara yang menyesuaikan keadaan. Tujuan awalnya adalah untuk 'menyita' atau melenyapkan uang haram sang bos mafia Reyes.
Kemudian tentang kejahatan para penegak hukum yang mudah disuap, aku jadi teringat dengan negeriku sendiri, Indonesia. Sudah menjadi opini umum bahwa 'sebagian besar' penegak hukum di negeri ini masih kotor. Melihat track record kepolisian negeri ini, tidak banyak yang bisa dibanggakan alias miskin prestasi. Kasus suap menyuap justru adalah 'prestasi' nya. Sama dengan film fast & furious 5, tentu saja ini terkait juga dengan perselingkuhan polisi dengan dunia permafiaan, dunianya orang yang tak berhati. Pada akhirnya saya lega, para polisi korup dan para mafioso itu kalah, berkat kegigihan organisasi tim yang dipimpin oleh seorang yang berjiwa besar dan kuat (hatinya) bernama Dom.
Meski yang aku share ini adalah tentang film, bukan dari kisah nyata, namun aku mengajak kalian semua untuk tetap optimis bahwa kebaikanlah yang pada akhirnya akan menang. Happily ever after seperti di cerita film atau dongeng cinderella itu bukanlah omong kosong, bukan hanya ada di film saja, tetapi dapat terjadi di dunia nyata.. bila kita termasuk orang2 yang yakin akan keberadaan Sang MahaKebaikan.
Friday, June 24, 2011
Beautiful
this whole world is too hard to described
scattered past on our back
whenever it could comes to our mind
but i know now everything's going to be fine
now i walk through the time
when our mouth stops saying anything
we can only hear the sun, moon, clouds sing
when we couldn't find any words
we can only say sorry and the life goes on
when we stare to the sky
when we laugh and cry
everything is just a matter of time
where everything will be gone forever..
just remember
something beautiful
it can heals all suffer
yes, it's when we see something beautiful
there's no word can describe, just tears and smile
when we cannot define a divine love..
Monday, February 14, 2011
"Allahu Akbar!" (?)

"Allahu Akbar!", Pekik kalian menghalilintar, membuat mahluk-mahluk kecil tergetar.
"Allahu Akbar! Allah Maha Besar!", Urat-urat leher kalian membesar meneriakkan 'Allahu Akbar' dan dengan semangat jihad nafsu kebencian kalian membakar apa saja yang kalian anggap mungkar.
"Allahu Akbar! Allah Maha Besar!" Seandainya 5 Milyar manusia penghuni bumi sebesar debu ini sesat semua atau saleh semua, tak akan sedikitpun mengurangi kebesaran-Nya..
Melihat keganasan kalian aku yakin kalian belum bertemu Ar-Rahman yang kasih sayang-Nya meliputi segalanya..
Bagaimana kau begitu berani mengatasnamakan-Nya ketika dengan pongah kau melibas mereka yang sedang mencari jalan menuju-Nya?
Mengapa kalau mereka memang pantas masuk neraka tidak kalian biarkan saja Tuhan yang menyiksa mereka?
Kapan kalian mendapat mandat dan wewenang dari-Nya untuk menyiksa dan melaknat?
"Allahu Akbar!", Syirik adalah dosa paling besar. Dan syirik yang paling akbar adalah mensekutukan-Nya dengan mempertuhankan diri sendiri, dengan memutlakkan kebenaran sendiri..
La ilaaha illalah..
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Thanks Mom you've been share this beautiful words to me, i appreciate it.. it inspires a lot! :)
Wednesday, October 27, 2010
kita, cinta
orang datang, orang pergi..
orang lahir, orang mati..
apa yang sebenarnya kita semua cari ?
sanggupkah kita bertahan di satu titik,
ketika cinta t'lah menyelimuti kita ?
ataukah masing-masing dari kita hendak meninggalkan cinta ?
bila benar begitu, kemanakah kita akan menuju selain kepada cinta ?
orang datang.. dengan cinta, sapa dan salam..
orang pergi.. dengan cinta, melambai tangan dan ucap terima kasih.
masihkah kita ragu dengan keabadian? sampai suatu ketika tidak ada lagi cinta.
kita semua tahu, kita pernah melihatnya, ketika orang melupakan cinta,
dunia ini buta, kehilangan mata..
orang lahir, orang mati..
orang lahir.. dengan cinta, pengorbanan yang luar biasa.
orang mati ..dengan cinta, teringat semua kenangan indah.
keinginan setiap dari kita mungkin berbeda, tapi semua indah bila berbagi rasa.
karena hidup ini sementara.. lelah jiwa ini apabila tidak bahagia bersama.
Monday, October 11, 2010
For All You Have
without you touching in
the world become so empty
so I here let you to come in
and feel the eternity
you drench me with love and grace
the blue sky and the wide sea
come close to embrace
it's sincere light all i see
there's nothing more i want
'cause you give my life a breath
there's no need for me to worry
'cause all you give is nothing less
Wednesday, October 6, 2010
We all are..
I just want to get into you
and feel that you are my brother, sister.
Let we see the beauty among this mess..
We all are... One.
We're gonna get some fun.
No one will ever bother this heaven
can you see that wall had falls down?
it's when your eyes stare beyond the room
look out to the window and say hello
Monday, September 27, 2010
everything we wanted
i'm in this world and nothing would waste,
so i'll give my best as far as i can get.
if the time won't enough to fill all my dreams,
i'll be lay and rest and watch i'm fading away
it's quite enough to say that egos won't work in all ways,
so i'll just take my time and watch the world as it happened
with full of smile..
what's going on today,
everything i see, i learnt from them..
some people sleep under the bridge
with a smile on face
then i wonder to see some people
when they've got everything
but they just can't go to sleep
i ask myself why it can be happen
those who never learnt about life,
they'll stuck on the day
when they're always get mad and frustated
everything they already have
seem not enough
and no one could help along the way
'cause in their loneliness
there just a lot of ambition
that seems too good to be true..
everything we wanted
it seems so far away
if we just too hard to push it
and never take the time
to realize that sometimes
we must pull it back
and take a breath for awhile
going back to the reality
and say 'it's all enough'
for all i have now,
i've been so many thanks.
Saturday, September 25, 2010
kasih di ujung pagi
merasakan kasih di ujung pagi
memetik buah-buah surgawi bermakna tinggi
dalam-dalam hati ini menyelam ke alam yang suci
meninggalkan segala pikir picik, iri, dan dengki
sapaan di ujung pagi tadi sungguh menawan
hati ini bergembira dalam nyanyian
terlintas cahaya menuju ke keabadian
membayangkan indah dunia tanpa kebencian
puji-puji diri sendiri hilanglah sudah
menyadari 'untuk apa itu semua?'
tiada guna mencari puji
karena itu membuat kita terus meninggi
hingga suatu saat nanti kita tak menyangka
akan dihempas oleh badai yang datang tak terduga
Thursday, September 23, 2010
Dominasi atau Harmoni ?
Suatu hari di atas bumi..
manusia lahir dan pasti hidup berkelompok
mengelompok bersama orang-orang yang telah dipercayainya
dan akhirnya menimbulkan keyakinan yang sama di dalam kelompoknya
keyakinan itu diperjuangkan sedemikian rupa
dengan harapan keyakinan itu dapat tertular kepada kelompok yang lain
sebuah cerita hadir mewarnai dunia ini..
terdapatlah seorang anak manusia menggoreskan tinta kehidupan
beliau seorang yang energik, religius, serta flamboyan.
tak jarang beliau mengungkapkan sumpah setia kepada Tuhan.
pelayanan kepada sesama manusia menjadi 'senjata'-nya, sungguh mulia.
Sampai suatu saat..
dia semakin terbuai dan terkungkung di dalam kelompoknya sendiri
kelompok yang ia banggakan, bahkan terlalu ia banggakan
rasa kebanggaan yang berlebihan itu menggelora di dadanya
sudah hukum alam bahwa kebanggaan yang berlebihan menciptakan kesombongan
sumpah setia kepada Tuhan pun menjadi tipis jaraknya dengan sumpah setia kepada Setan.
Apakah setan itu? yakni suatu pemikiran dan perasaan ingin menguasai..
ingin, ingin, dan ingin..
tak lain adalah pemikiran dan perasaan ingin mendominasi.
akhirnya ia memutuskan untuk 'menjamah' kelompok lain
menjamah dalam arti, bukan ingin berbagi dan bersaudara secara apa adanya
tapi karena ada maunya.. ada inginnya..
sungguh manusia telah dibuat lelah oleh keinginannya yang diada-adakannya.
ia mau, ia ingin, kelompoknya lebih unggul daripada kelompok yang lain
ia tidak rela bila ada yang berbeda dengan keyakinannya ataupun keinginannya
maka ia ingin sama semua seperti apa yang ada di pikirnya
ia yakin bahwa kelompoknya lah yang paling sempurna
pikiran dan rasa dominasi itu menguasai dirinya.. ingin, ingin, dan ingin..
ingin ini seperti itu, ingin itu seperti ini. tidak pernah puas..
tak jarang ia menuai pertentangan karena keyakinannya itu
kebanggaan akan kelompoknya justru membawa kebencian dari kelompok lain
sungguh sayang..
kebanggaan itu seharusnya bisa mengundang kekaguman dari kelompok lain
kebanggaan yang bisa menenangkan dan mempersatukan
namun karena kebanggan itu membludak, semua jadi tidak enak dipandang.
harmoni tidak pernah terjadi, justru malah konflik yang menajam
sungguh sia-sia hidupnya di bumi ini
otak dan hatinya di penuhi oleh keinginan mendominasi
sampai kapanpun hasrat itu tidak akan tercapai
sang ruang dan waktu di dunia fana akan menelannya
hidup sebentar tapi ingin kekal, tidak masuk akal
bertanya, dimanakah sumpah setiamu pada Tuhan waktu itu?
dunia berdasarkan dominasi takkan bertahan lama, akan hancur berantakan
namun dunia berdasarkan harmoni akan mengalir seperti air
dunia harmoni tidak pernah takut akan perubahan..
seperti air mengikuti arus dari sungai sampai ke laut maha luas
sementara..
dunia dominasi selalu menggigil ketakutan pada perubahan
menunggu kepunahan..
akhirnya beliau sang pembangga kelompoknya menyerah
dan lepaslah semua keinginan-keinginan yang diada-adakannya.
bersatu dalam harmoni, inilah kenyataan dunia sesungguhnya.
siapa yang merasa sanggup menantangnya, neraka siap menunggu
bumi tidak akan bersama orang-orang yang haus hasrat dominasi
karena dunia ini tidak didasarkan pada dominasi, tapi harmoni.
Monday, January 4, 2010
Questioning the People. Are the modern people live in a sense of caring?
*My nauseated upon the people's behavior (mostly in Jakarta) who always underestimating the others and saying 'alay' for their own pleasure or maybe it could be as a sign of 'conquering' above anyone else for them to make a 'divided world' (how rude it is?!). Well, i am not trying to be offensive to judge it at all. But i am just trying to describe how the youth society/adolescence egos 'overwhelm' until it goes into the 'Popular Culture' (much of negative meaning on this). Ya, the culture that follow your back everyday, every step you take, without much awareness, it infiltrate within your mind and give a lots of negative sensation all day.
Some people proud of what They got, what They buy,
How They come to the groups, and how They acted.
Underestimating and humiliating the others are 'normal' things to do.
Well, is this looks fair? is it the purpose of life?
Does everyone just belong to a small groups and narrow meanings of interests?
Are people become 'blind' to see a widespread society which are real exist and diverse?
You say 'this way was okay. who cares'.
But I say' it's not okay anyway. You must see there's lot of point of view out there'
You say 'I got what I want. I have all on myself and my "gang" was my perfection.'
'I reflected every morning and yea I looked great.'
'I will keep my distance to Them who don't have sense of fashion and style enough'
'They look like a strangers for me (actually, You're the real stranger)'
'Stay away from my sight, you seem won't fit for me'
Well, I say 'Stop judging the others. What was the worth of doing that?'
'Everything will be okay if You try to take a brake on your mouth'
'Please shut up, take your minute for awhile."
"Make all things clear and find some peace within Your mind"
..nothing's worth for being too much dazzling in, all You need is a better understanding'
'Test your sense of sensitivity..we can make it together'
'the respect is something You will earn, if You have faith'
It is interesting when i found the words from one of blogger who believe in punk attitude, how he made a comment about condition of nowadays society. he said: " It is a shame to think, that people are becoming a mass collection of stereotypes. It's all about 'fitting with the same "style" to be accepted by the groups' ("the style" what i mean is not to stressed on fashion but in a lifestyle, how you acted, how you think, how you run your life)". Where's Your identity, then?
Hargailah Perbedaan. Jangan terlalu banyak (sibuk) menilai orang. Berpikir konstruktif apabila melihat sesuatu, jangan berpikir 'gampang' dan mencampakkan apa yang seharusnya dipikirkan. Latih perasaan kepedulian dan empati anda terhadap kondisi yang dialami orang lain, misalnya ketika kita melihat sekolah-sekolah yang 'berstandar rendah' (minim fasilitas pendidikan dan tenaga pengajar) di kanan kiri kita di Jakarta. Melihat fakta tersebut kita bukannya untuk mencela keadaan, pergaulan, dan kekurangan mereka, TETAPI cobalah berpikir mengapa mereka bisa sekolah dengan standar rendah sedangkan kita bisa menikmati yang berstandar tinggi? apakah anda tidak berpikir untuk menyamaratakan standar mereka agar kondisi masyarakat tidak timpang lagi sehingga dengan itu kita bisa menikmati indahnya keadilan dalam bermasyarakat? alhasil, tidak ada kesenjangan pergaulan, tidak ada penghinaan terhadap standar kehidpuan yang lebih rendah tapi justru saling melengkapi, membuat harmoni dalam masyarakat. Yang mampu berbagi dengan yang tidak mampu.. Jadi sangat disayangkan apabila anda justru mencela keadaan sekolah berstandar rendah, itu sama saja anda mengabaikan rasa kepekaan nurani anda, dan nantinya akan terakumulasi menjadi sifat angkuh.. Come on people, ripped off all your superiority feelings..you can solve it for yourself..the power of your mind and conscience are always waiting inside..
Be yourself, not to be scared of what people or 'Popular Culture' said..because they might be wrong. And, I want to stress to the point: Believe that you have your own sight and own values. Believe that you had a 'self-control'. Well, sorry if I am too much preaching and arguing..I just want to share my arguments cause i have my own sight and i think it's worth to share. So, it's important to you (me too) must have 'sense of thinking' if you are normal enough as a human being so that your thoughts not to be rotten and forgotten. Peace out! Start a revolution in yourself..
Saturday, November 14, 2009
Meninjau Kembali Pancasila: Visi Sosialisme Indonesia

By: Adi Permana
(Tulisan Bebas)
"Hendaknya Sosialisme itu berlandaskan Demokrasi, dan Demokrasi itu berlandaskan ketundukan kita terhadap Tuhan."
Manfaat yang diperoleh dari tiga prinsip keTuhanan, Demokrasi, dan Sosialisme:
1) KeTuhanan--> Implikasi logis dari keyakinan pada Tuhan adalah terbentuknya sifat dan sikap kerendahan hati dalam diri seseorang. Mengakui bahwa ada Yang Mutlak atau Yang Maha Benar berarti sebagai manusia kita harus 'tahu diri' (tidak sombong). Menyadari bahwa hanya dengan cara mendengarkan orang lain, menghargai orang lain, dan tidak merendahkan orang lain (Demokrasi) seseorang bisa mendekatkan diri pada Kebenaran. Mengusahakan keadilan sosial (Sosialisme) bukan karena kepentingan kekuasaan duniawi yang temporer, akan tetapi karena ketundukan terhadap kekuasaan Tuhan Yang Kekal di mana mengandung makna bahwa datangnya generasi manusia berikutnya adalah 'Abadi Hukumnya' sehingga kita wajib mewariskan kepada angkatan mendatang demi meneruskan kelangsungan negara-bangsa Indonesia yang lebih baik.
2) Demokrasi--> Kebebasan berpendapat dan prinsip musyawarah yang mencerahkan/bijaksana. Kemuliaan akhlak/moral manusia diuji yaitu dengan memaksimalkan pikirannya/idea-nya untuk berpikir terus-menerus menggunakan akal budi dan mengedepankan kejernihan nurani yang sudah karuniai oleh Tuhan serta menghargai perbedaan pendapat dengan tujuan menyintesiskan, 'mencari jalan tengah', pada pendapat-pendapat yang ada menjadi kesatuan suara yang bulat demi kemajuan umum (Sosialisme). Maka dengan ini, sistem kediktatoran harus dihapuskan (totaliarianisme, dsb.) KARENA bisa menghambat kelangsungan demokrasi permusyawaratan. Suatu sistem kediktatoran (kepemimpinan satu arah dan bersifat represif) tidak dibenarkan dalam Indonesia yang dasar filosofisnya Pancasila karena bertentangan dengan asas demokrasi yang menjujung tinggi persamaan dan kebebasan berpikir (permusyawarahan, mengakomodasi perspektif dari banyak arah, bersifat persuasif dan juga reflektif--terkandung pada sila ke-4). Dan pada akhirnya, kediktatoran bertentangan pula terhadap asas keTuhanan karena Tuhan mengajarkan manusia untuk tidak serakah dalam hal apapun, termasuk melegitimasi kekuasaan secara sepihak.
3) Sosialisme--> Pembebasan masyarakat dari ketidakadilan sistem politik, ekonomi, pendidikan, sosial-budaya dan juga dari tirani, oligarki, kediktatoran agar tercipta harmonisasi masyarakat yang berdasar pada karakteristik masyarakat madani (civil society) yaitu menjunjung tinggi kesetaraan, keadilan, dan demokrasi. Masyarakat madani dalam implementasinya akan membentuk suatu tatanan masyarakat yang Sadar Hukum. Masyarakat tidak perlu lagi khawatir dengan hak-haknya terampas oleh para tyrants--dalam hal ini bisa oleh Pemerintah diktator, Pemerintah yang lalai dalam menjalankan tugas, Mafia Pasar Bebas, Mafia Peradilan, Pejabat korup, kerumitan birokrasi, dll.-- karena masyarakat sudah menyadari akan berlakunya kepastian hukum negara. Dalam sosialisme, setiap warga negara meyakini HAK semua manusia itu pada dasarnya sama, yaitu 1) sebagai subyek: kebebasan menentukan pilihan hidup/keyakinan/pandangan hidup (Demokrasi) seiring dengan KEWAJIBAN yang mengikat sebagai mahluk/individu (Ciptaan Tuhan) yang senantiasa menjunjung tinggi keadilan sosial (Sosialisme) dan 2) sebagai objek: berhak mendapatkan penghidupan yang layak, seperti keterjangkauan kebutuhan dasar (sandang, pangan, papan) dan kemudahan akses pendidikan dan kesehatan. Jadi, kebebasan dalam konteks sosialisme adalah kebebasan yang bertanggung jawab sosial. Oleh karena itu, menurut saya, sosialisme dapat dijalankan dengan cara: Persamaan Hak setiap manusia dan melaksanakan Kewajiban Sosial secara konsekuen agar tercipta suasana yang tidak diskriminatif, aman, adil, terbuka dan saling percaya.
Sosialisme dapat dimulai dari lingkungan yang terkecil, seperti pada diri sendiri (membangun kesadaran sosial individual), keluarga, RT RW, kecamatan, dan seterusnya sampai pada lingkungan yang besar seperti bernegara. Tidak melulu sosialisme yang menekankan pada hegemoni kekuasaan politik yang terfokus pada perebutan kekuasaan elitis dan cenderung pragmatis (negatif)..
Sesuatu yang besar dimulai dari yang kecil..
Maka benih dari sosialisme itu sebenarnya ada pada individualisme, dimana individu-individu melalui proses: 1) internalisasi (penanaman nilai-nilai sosial dalam keluarga dan agama), 2) sosialisasi (pola dan perilaku bermasyarakat dengan cara menghargai HAM setiap anggota masyarakat dan melaksanakan tanggung jawab sosial kita selaku anggota masyarakat ) dan 3) enkulturasi (membudidayakan perilaku sosialistis untuk membangun peradaban). Diharapkan dengan ketiga 'resep' itu, setiap individu dapat menjadi pribadi yang unggul (Insan Kamil) yang kemudian secara sadar mendedikasikan dirinya untuk keharmonisan masyarakat.
Sosialisme merupakan suatu cara hidup (way of life) masing-masing pribadi manusia (individu) dengan keyakinannya pada Tuhan (sumber nilai kebajikan dalam agama masing-masing) dan dengan sendirinya nilai kebajikan tersebut diwujudkan dalam membina kehidupan bermasyarakat sebagai mahluk sosial.
Setiap individu dapat berkembang dengan bebas (human capital development) tanpa harus ada intervensi negara yang terlalu besar (contohnya adalah sosialisme-komunisme soviet yang akhirnya runtuh) karena saya meyakini sosialisme adalah untuk masyarakat seluruhnya BUKAN untuk pejabat negara. Ini sama halnya dengan apa yang terjadi dalam masa Orde Baru: dimana pejabat negara mengeruk banyak profit dari rakyat secara lokal regional maupun nasional demi kepentingan kroni-kroninya..kapitalisme kroni adalah penyakit yang harus dihindari..ini sangat menyalahi prinsip demokrasi, di mana kedaulatan berada di tangan rakyat seluruhnya, bukan di tangan segelintir pejabat negara (oligarki).
Pejabat negara tidak boleh membuat peraturan yang memberatkan masyarakat untuk dapat bisa berkreasi dan berinovasi. Pejabat negara harus menjunjung tinggi HAM secara umum, tanpa memandang kelas sosial ataupun status sosial, secara konsisten berdiri untuk menegakkan keadilan yang hakiki dengan dipelopori oleh lembaga hukum dan kehakiman negara.
Kembali pada individualisme: Negara sosialis tidak perlu paranoid atau alergi terhadap kebebasan individual tersebut, karena seperti yang sudah saya bahas sebelumnya bahwa kebebasan individu itu terikat erat dengan kewajiban sosial. Negara hanya cukup mengamati dan melayani kebutuhan masyarakat, baik moral maupun materil, serta memberikan kepastian hukum kepada warga negaranya demi menunjang penghidupan dengan akses-akses yang mudah bagi seluruh masyarakat, tanpa terkecuali orang miskin dengan taraf hidup serendah-rendahnya DIWAJIBKAN diberi kemudahan mengakses modal untuk usaha, pendidikan, dan pelatihan bakat cuma-cuma untuk mengetahui potensi masing-masing individu. Tujuannya adalah untuk memandirikan masyarakat, yaitu mengangkat kelas bawah yang kurang mampu menuju masyarakat kelas menengah yang mapan.
Redefinisi sosialisme disini ialah dimulai secara etimologis, yakni dari akar kata 'sosial'. Sosial dapat berarti pergaulan hidup manusia. Maka, Sosialisme itu pada hakikatnya adalah 'mengajarkan manusia tentang suatu cara pergaulan hidup yang peka terhadap nilai-nilai sosial dan Hak Asasi Manusia'--karena sebelumnya sifat sosial manusia itu dibelenggu oleh sistem kapitalisme negatif (penguasa bersekongkol dengan pengusaha) yang bersifat profit oriented, dan eksklusif (politik golongan): mengabaikan aspek sosial/Hak Asasi Manusia secara umum. Sosialisme timbul karena munculnya kapitalisme eksklusif, di mana di dalam kapitalisme eksklusif itu batas-batas sosial dan HAM secara umum dilanggar demi memenuhi kepentingan segelintir orang saja. Oleh karena itu, sosialisme pada gilirannya akan menyadarkan dan menegaskan batas-batas sosial itu demi kemajuan peradaban manusia secara umum. Revitalisasi sosialisme dalam praktik kehidupan bernegara adalah suatu 'keharusan sejarah kemanusiaan'.
Dalam melakukan eksperimen pengertian ini, saya mencoba melenceng dari disiplin-disiplin ideologi sosialisme yang klasik atau 'umum'. Saya pikir mendefinisi ulang sosialisme adalah suatu kebutuhan, yang sekian lama 'kaku' terfokus pada pemikiran atau cara-cara Marxisme-Leninisme semata. Menurut saya, untuk apa manusia dilahirkan hanya untuk dikuasai dan dikungkung sebuah ideologi? yang benar adalah kebalikannya, ideologi adalah sebuah kajian untuk dipelajari (dikuasai) manusia agar manusia selalu berdialektika, bereksperimen terhadap kebenaran (atau dalam istilah Islam ialah seorang yang 'hanif' yaitu condong kepada Kebenaran). Tidak ada pemikiran manusia yang mutlak, maka dari itu pikiran kita selalu dituntut untuk bijaksana dalam menyikapi berbagai hal, termasuk tentang sosialisme ini. Mendinamiskan ideologi adalah suatu keharusan.
Sosialisme disini adalah bermaksud membimbing manusia ke arah kemerdekaan pikiran (pembebasan atas belenggu kebodohan moril dan pemiskinan materiil struktural) agar masing-masing individu sadar akan potensi mereka sendiri, tidak karena paksaan tapi karena kesadaran, bersamaan dengan pertanggungjawaban terhadap keadilan sosial. Negara harus tak henti-hentinya melakukan tindakan persuasif-edukatif, bukan represif.
tindakan persuasif-edukatif itu dicontohkan oleh, dalam agama Islam dan menurut saya ini bersifat universal, Nabi Muhammad ketika menyebarkan ajaran Islam pertama kali di Mekkah. Beliau diusir oleh kaum Quraisy (penduduk Mekkah) saat itu, dan beliau tidak panik dengan melawannya secara frontal. Beliau yakin potensi manusia adalah kerendahan hati dan tunduk kepada Yang Kuasa, maka dari itu Nabi hanya cukup membimbing untuk mengajak manusia sadar (persuasif), tidak perlu cara-cara yang berlebihan (represif) seperti konfrontasi, invasi, dsb.. Seperti yang kita ketahui bersama, Nabi mengucapkan secara lisan untuk mencerahkan kembali potensi manusia (fitrah manusia) yang Tunduk Pada Kebesaran Tuhan, dan apabila terkadang secara fisik, seperti perang, Nabi mengedepankan sikap defensif daripada ofensif. Kemudian, tak bisa dipungkiri betapa luhurnya nilai-nilai Islam yang dibawa Nabi Muhammad diabadikan secara literal (zaman sesudah nabi dengan dirampungkannya al-Quran sebagai bukti Kebesaran Tuhan). Dengan demikian perjuangan nabi tersebut adalah universal (read: sebagai nilai-nilai luhur kemanusiaan yang diakui bersama kebenarannya yang mencakup lintas ras, suku, bangsa, maupun agama), tidak berdasar paksaan, tidak dengan 'penaklukan', tetapi dengan kesadaran mereka (read: masyarakat) sendiri. Dan implikasinya adalah ajaran Nabi dapat diterima sebagai ajaran untuk membangun 'Peradaban' yang luhur', rahmatan lil alamin.
Sosialisme disini bisa diperjuangkan secara revolusioner (tanpa kekerasan) dengan cara yang demokratis melalui sosialisasi yang intensif tentang sistem negara dan birokrasi yang memudahkan akses seluruh masyarakat (baik bagi yang kaya dan terutama yang miskin) untuk dapat mengembangkan etos kerja Manusia Merdeka dan Bertanggung Jawab Sosial Berlandaskan keTuhanan (kerendahan hati).
Pada akhirnya, maksud saya menuliskan tentang keTuhanan, Demokrasi, dan Sosialisme ini adalah sebenarnya merupakan sebuah kajian ulang dari ideologi negara kita, yaitu Pancasila. Saya rasa mengkaji Pancasila ialah suatu keharusan Warga Negara Indonesia agar ideologi ini selalu dinamis, semakin hari semakin dipertajam visinya.
Note:
"Negara hanya sebuah alat bantu (tool) masyarakat"
tapi banyak orang yang salah mengartikan negara sebagai sebuah tujuan untuk menampilkan kekuasaan terhadap masyarakat. (seperti yg terjadi di DPR sekarang, terlalu membanggakan diri menjadi anggota dewan, padahal mereka hanyalah sebagai 'pembantu' masyarakat. Dalam istilah Bung Karno, seorang wakil rakyat bisa diibaratkan sebagai "budak daripada rakyatnya"). Dan yang terpenting, hal yang merupakan bangunan kokoh seseorang dalam menjalani tugas kenegaraannya adalah sadar bahwa kekuasaan Tuhan adalah yang Mutlak, kekuasaan negara (duniawi) hanya temporer dan oleh karena itu harus diregenerasi sehingga mencegah agar tidak haus kekuasaan. Inilah hakikat dari sila ke-1 Pancasila, keTuhanan Yang Maha Esa. Kemudian juga sila ke-4, kerakyatan yang DIPIMPIN OLEH HIKMAH KEBIJAKSANAAN, jadi bukan dipimpin oleh orang kuat/diktator ataupun hegemoni kekuasaan koalisi partai-partai besar.
